

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-209">
 <titleInfo>
  <title>Pelaksanaan kurikulum muatan lokal merupakan suatu tantangan</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sutardi, Ambari</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher> Jurnal pendidikan dan kebudayaan</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: p. 112-122</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kurikulum nasional baik untuk pendidikan dasar maupun pendidikan menengah memiliki peranan penting di sektor pendidikan karena mewadahi bahan ajar yang merupakan salah satu aspek untuk menentukan kualitas anak didik yang akan bermuara pada kualitas bangsa. Karena itu kurikulum selalu mendapatkan perhatian pemerintah agar anak didik berkualitas dan dapat mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan zaman. Untuk mencapai hal tersebut  perubahan demi perubahan sudah dilakukan  tetapi satu hal yang masih belum terjangkau dari dampak perubahan kurikulum nasional adalah pemanfaatan potensi daerah. Pemerintah menyadari akan hal ini sehingga mulai tahun 1990 ada gagasan untuk menyusun kurikulum yang dapat mengakomodasikan bahan ajar yang sesuai dengan keadaan di daerah setempat. Kurikulum yang mengarah pada pemanfaatan potensi daerah tersebut disebut Kurikulum Muatan Lokal atau disingkat mulok  dan berlaku sejak tahun 1994 di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Ada keuntungan dan hambatan dengan diberlakukanya mulok di stiap propinsi. Namun  hambatan tersebut tidak perlu dianggap sebagai masalah yang akan menghentikan program desentralisasi  tetapi harus dianggap sebagai tantangan dan perlu dicarikan cara penyelesaiannya agar program tersebut berjalan dengan baik.</note>
 <subject authority="">
  <topic>KURIKULUM - MUATAN LOKAL</topic>
 </subject>
 <classification>370.7 JUR 18-20</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-209</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2001-09-25 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2001-09-25 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>