

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-35663">
 <titleInfo>
  <title>Nonotheisme dalam perspektif nasional</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Dewa Agung Gede Agung</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bag. Serial Sejarah Kajian Sejarah dan pengajarannya: Jurnal Fakultas Satra Universitas Negeri Malang</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 53-69</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kata monotheisme yang berarti percaya dengan adanya satu Tuhan harus dihayati dan diamalkan bukan hanya dihafal. Pernyataan bahwa Indonesia hanya percaya dengan satu Tuhan yang sudah menjadi konsensus Nasional harus dimengerti dengan baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang secara tegas dan lugas terdapat dalam Pancasila  sila pertama yaitu KETUHANAN YANG MAHA ESA. Banyak penyebutan nama Tuhan karena agama dan kitab sucinya yang berbeda yang harus dijembatani dengan berpikir-historis dan kritis-religius sehingga tidak selalu menjadi pemicu konflik yang sangat mampengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Heteroginitas Indonesia harus disadari sebagai tantangan yang harus diusahakan kearah kebersamaan dan pemikiran ini harus ditanamkan sedini mungkin kepada setiap warga negara Indonesia oleh tokoh-tokoh sentral baik dalam lembaga-lembaga formal maupun non-formal. Kondisi dan sifat primurdial yang mengarah ke dis-integratif harus dihilangkan karena hal  ini tidak sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia dan dalam kondisi yang pluralisme. Insiden-indisen yang terjadi di negara kita dalam periode tahun 1995-1996 bahkan sampai awal tahun 1997 ini berlatar belakang sangat kompleks  tetapi melihat dari orientasi perusakan yang dilakukan oleh massa menunjukan berlatar belakang SARA terutama SARA agama. Menurut penulis perbedaan konsepsi ke-Tuhanan-lah diantara pemeluk Agama di Indonesia semakin lama dirasa semakin sempit dan kerdil sebagai faktor pertama disamping didukung oleh faktor lain seperti adanya kesenjangan sosial  ekonomi  politik  hukum dsb. Karena itu penilis ingin menuangkan kata hati yang terpendam dalam bentuk tulisan ini sehingga tidak terjadi sakit bathin yang tidak terobati  kecuali negara bathinnya juga tidak sakit. </note>
 <subject authority="">
  <topic>MONOTEISME</topic>
 </subject>
 <classification>905.598221 SEJ</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-35663</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2010-02-03 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2010-02-03 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>