

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-35928">
 <titleInfo>
  <title>Merenkuh Kebebasan Di Tengah Ancaman Fanatisme</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bag. Serial Religius: Jurnal Transformasi Kependidikan dan Keagamaan Bidang Kajian Masjid Baitut Tholibin Kompleks Depdiknas Jakarta</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 31-42</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Dia senag bermain dengan teman-temannya. Dia suka lari-lari pagi. Dia juga juga menyukai musik  film  dan bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Namun  sejak pagi itu  27 September 1996  semua kegemaran dan impian itu tak mungkin lagi baginya  karena sejak saat itu Tliban mengharamkanya  dan melarang kaum perempuan Afghan keluar rumah sendirian. Mereka tak ubahnya menjadi tawanan  tidak bisa lagi bekerja diluar rumah  sekolah  apa lagi bermain. Hidup berubah menjadi murung tak berpengharapan. Tak ada lagi radio  televisis  film  atau aktifitas jalan-jalan. Yang ada hanya propaganda  pengajian  dan tembakan. Inilah kesaksian yang menyentuh dan personal dari seorang gadis berusia 16 tahun yang hidup dibawah rezim thaliban. Latifah  gadis itu  berkisah tentang hidupnya yang terpenjara  memberikan kesaksian atas apa yang terjadi pada negerinya  keluarganya dan terutama kaum perempuan. Kesaksian gadis itu merupakan peljaran yang sangat berharga bagi mereka yang belum pernah mengalaminya. Kebebasan ekspresi dalam berbagai segi kahidupan telah direnggut oleh rezim Taliban  atas nama agama  syariah  islam  dan Tuhan. Kebebasan ekspresi dalam musik  tarian  film  bekerja di luar rumah (bagi kaum perempuan)  dan gaya hidup tertentu telah dibungkam oleh kelompok yang merasa berhak dalam memonopoli kebenaran dalam memahami dan menafsirakan islam. Bagi rezim Taliban tidak ada ruang untuk mengakui dan menerima kebenaran  pemahaman dan penafsiran yang berbeda dengan pemahaman dan penafsiran mereka. Pembungkan kebebasan ekspresi dalam banyak bidang kehidupan itu adalah cermin sikap fanatisme mereka yang keras bagaikan baja.</note>
 <subject authority="">
  <topic>AFGHANISTAN - REZIM TALIBAN</topic>
 </subject>
 <classification>297.027 REL</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-35928</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2010-02-16 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2010-02-16 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>