

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-43110">
 <titleInfo>
  <title>Analisis-Kritis Perlunya Perubahan Kebijakan Terhadap Pelabelan Mata Pelajaran Dalam Kurikulum Sekolah</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Hermana Somantrie</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bag.serial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan : Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 12 - 20</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Mata Pelajaran dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Indonesia telah dikelompokkan secara irasional ke dalam dua jenis labeling (penamaan atau pelabelan). Di satu sisi  beberapa mata pelajaran menggunakan label   pendidikan    di sisi lain mata pelajaran tidak menggunakan. Kedua jenis pelabelan itu patut dipertanyakan secara kritis melalui pertanyaan filosofis  1) mengapa pelabelan ini terjadi pada kurikulum sekolah   dan 2) apa filosofi dasar untuk pelabelan ini  Pada kenyataannya  kurikulum merupakan suatu instrumen penting pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu  semua mata pelajaran dalam kurikulum semestinya mempunyai label pendidikan yang sama atau sebaliknya. Hal ini sebagai suatu masalah krusial dalam dunia pendidikan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum mengembangkan kurikulum baru. Untuk melakukan hal tersebut  semua ahli pendidikan  pengembang kurikulum  birokrasi pendidikan harus memiliki persepktif mengenai filsafat pengetahuan.</note>
 <subject authority="">
  <topic>1. FILSAFAT &#13;2. PENGETAHUAN &#13;3. KURIKULUM&#13;</topic>
 </subject>
 <classification>370.07 JUR  201</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-43110</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2012-06-13 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2012-06-13 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>