

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-45562">
 <titleInfo>
  <title>Aktivitas Matahari dan Dampaknya pada Komunikasi Radio HF</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sri Suhartini</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bagian Serial Majalah Sains dan Teknologi Dirgantara</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 41-46</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Dampak aktivitas matahari semakin terasa pada kehidupan manusia dan sistem teknologi yang ada di angkasa maupun di bumi. Salah satu dampak flare matahari adalah gangguan pada sistem komunikasi radio HF. Dalam waktu beberapa menit  radiasi sinar X dengan intensitas tinggi yang dipancarkan dalam kejadian flare besar dapat mencapai atmosfer bumi  dan mengakibatkan peningkatan absorpsi di lapisan D ionosfer. Peningkatan absorpsi ini dapat mengakibatkan komunikasi yanng menggunakan frekuensi HF rendah terputus  yang dikenal dengan istilah SWF (Short Wave FadeOut). Pada kejadian flare tanggal 10 April 2001 (kelas X2.3  3B) frekuensi minimum yang teramati di ionogram oblique dengan pemancar di Songkhla - Thailand (7.12 LU  100 35 BT) dan penerima di Tanjungsari (6.89 LS  107.89 BT) mencapai 18.1 MHz  atau meningkat sekitar 10 MHz dibandingkan media bulanannya. badai ionosfer yang terjadi dua sampai empat hari setelah flare besar berakibat menurunnya frekuensi komunikasi pada sisi atas pita HF. Flare tersebut mengalami penurunan frekuensi maksimum lapisan F2 (foF2) di atas Tanjungsari pada tanggal 12 April 2001 selama beberapa jam sebesar lebih dari 5 MHz dan mencapai puncaknya pada pukul 8 00 pagi sebesar 7.2 MHz atau 58% dari median bulanannya. Peningkatan absorpsi dan badai ionosfer akan menyebabkan kegagalan komunikasi karena perubahan frekuensi yang dapat digunakan untuk komunikasi.</note>
 <subject authority="">
  <topic>1. KOMUNIKASI RADIO HF&#13;2. IONOSFER</topic>
 </subject>
 <classification>523.05 BER 2, 3</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-45562</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2013-02-12 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2013-02-12 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>