

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-50537">
 <titleInfo>
  <title>Membebaskan Pendidikan dari Kuasa Penyeragaman</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Usep Hasan Sadikin</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bag.Serial Jurnal Perempuan untuk Pencerahan dan Kesetaraan</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 79-96</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Bertolak pada kuasa pendidikan yang menyeragamkan  pendidikan yang membebaskan dibutuhkan sebagai usaha pengambalian pendidikan sebagai proses kemanusiaan. Pendidikan bukan untuk menyeragamkan manusia yang berbeda. Penekanan proses aktivitasnya adalah keasadaran. Men/di-didik bukanlah me/di-paksa. Di dalam proses belajar ada aksi-reaksi memberikan dan memilih rekomendasi. Pecut untuk menggerakkan kita yang terlibat di dalamnya adalah saran dan kritik  bukan angka penilaian dan hukuman yang berasal dari kebenaran tunggal. Manusia mempunyai kebebasan. Jika takdir itu ada  maka takdir manusia adalah diberikan kuasa untuk merubah takdirnya. Manusia punya pilihan bebas untuk menentukan apa dan bagaimana dirinya eksis bertindak.   Selama ini sekolah lebih diposisikan sebagai lembaga pendidikan baku yang tidak boleh diganggu. Menyertai bangunanya yang mengurung ragam manusia didalamnya  sekolah tidak elastis dan tidak dialogis terhadap keragaman pandangan. Inilah tirani kebenaran menjadikan kebenaran menjadi sesuatu yang absolut dan harus diterima.</note>
 <subject authority="">
  <topic>PENDIDIKAN - KURIKULUM</topic>
 </subject>
 <classification>305.4 JUR</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-50537</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2014-09-16 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2014-09-16 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>