

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-54820">
 <titleInfo>
  <title>Heterosis, Heterobeltiosis dan Tindak Gen Karakter Agronomik Kedelai {Glycine max (L.) Merrill}&#13;
[Heterosis, Heterobeltiosis and Gene Action of the Agronomic Characters in Soybean (Glycine max (L.) Merrill]</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Ayda Krisnawati</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bag.serial Berita Biologi: Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati. Pusat Penelitian Biologi-LIPI</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 827 - 836</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sebagian besar varietas kedelai  Glycine max (L.) Merrill  di Indonesia diproduksi melalui persilangan. Nilai duga heterosis dan heterobeltiosis  serta tindak gen perlu diketahui untuk mengoptimalkan strategi pembentukan varietas kedelai. Penelitian dilaksanakan dirumah kaca Balai Penelitian Tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian (Balitkabi). Tahap pertama adalah membentuk biji F1 hasil persilangan yang dilakukan dari bulan Mei hingga Juli 2009  tahap kedua adalah untuk penilaian tanaman F1 (Agustus-November 2009). Heterosis  heterobeltiosis dan nisbah potensial dihitung dari 18 kombinasi persilangan yang berasal dari 6 genotipe tetua. Data yang digunakan meliputi umur berbunga (hari)  umur masak (hari)  tinggi tanaman (cm)  jumlah cabang/tanaman  jumlah buku/ tanaman  jumlah polong isi/ tanaman  hasil biji/ tanman (g) dan berat 50 biji (g). kombinasi persilangan yang memiliki nilai heterosis tertinggi pada karakter umur berbunga  umur masak  jumlah cabang/tanaman dan jumlah buku/tanaman  juga menunjukkan nilai heterobeltiosis tertinggi padakarakter agronim yang sama. Nilai heterosis karakter hasil biji per tanaman berkisar antara -36 50% hingga 75 49%  sedangkan untuk heterobeltiosisnya berkisar antara -48 68% hingga 58 31%. Nilai heterosis tertinggi ditunjukkan oleh F1 dari persilangan Wilis x Malabar. Nilai heterobeltiosis tertinggi ditunjukkan oleh persilangan    Wilis x Grobogan  yang berarti bahwa kombinasi persilangan ini memiliki hasil 58 31 % lebih tinggi dari pada tetua terbaiknya. Hasil biji pada kedelai dikendalikan oleh gen dominan dan over dominan. Kombinasi persilangan Wilis X MLG 0706 (resiprokal) memiliki nisbah potensi yang lebih tinggi untuk karakter jumlah polong dan hasil biji/tanaman dibandingkan dengan nilai nisbah potensi yang lain. Pengembangan hibrida kedelai dengan pemanfaatan fenomena heterosis masih perlu dikaji kelayakan dari segi ekonomi.</note>
 <subject authority="">
  <topic>1. HETEROSIS&#13;2. HETEROBELTIOSIS&#13;3. KEDELAI</topic>
 </subject>
 <classification>574.05 BER</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-54820</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2015-08-05 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2015-08-05 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>