

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-56271">
 <titleInfo>
  <title>Kebijakan penempatan apoteker di puskesmas</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sudibyo Supardi; Andi Leny Susyanti; Raharni; Max Joseph Herman</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bag.serial Buletin Penelitian Sistem Kesehatan ( Bulletin of Health System Research. Pusat Humaniora Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. Kementrian Kesehatan RI</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 133-142</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 51 Tahun 2009 disebutkan pelayanan resep dokter di pelayanan kefarmasian (salah satunya puskesmas) harus dilakukan oleh apoteker. Saat ini hanya 10% puskesmas yang memiliki apoteker. Belum diketahui bagaimana kebijakan penempatan apoteker dipuskesmas dan permasalahan yang terkait penempatan apoteker di puskesmas. Tujuan penelitian adalah mendapatkan informasi tentang peran institusi daerah    terkait dengan kebijakan penempatan apoteker di puskesmas dan hambatannya. Hasil penelitian diharapkan sebagai masukan bagi pihak yang terkait untuk meningkatkan jumlah dan peran apoteker di puskesmas. Penelitian potong lintang (croos sectional) dengan pendekatan kualitatif dilakukan terhadap instansi daerah yang terkait dengan peran apoteker di puskesmas pada tahun 2011. Lokasi penelitian dipilih berdasarkan keberadaan perguruan tinggi farmasi yang terakreditasi A atau B di pulau jawa  dengan asumsi ketersediaan apoteker memadai untuk bekerja di puskesmas  yaitu Provinsi Banten  Jawa Barat  Daerah Istimewa Yogyakarta  Jawa Timur. Dari masing-masing provinsi di ambil satu kota  yaitu Kota Tanggerang  Kota Bandung  Kabupaten Bantul dan Kota Surabaya. Informan untuk wawancara mendalam adalah pejabat dari Dinkes Provinsi  Dinkes Kabupaten/Kota  Badan Kepegawaian daerah  dan kepala puskesmas. Sedangkan informan diskusi kelompok terarah adalah para apoteker yang mewakili Dinkes Kabupaten/Kota  puskesmas perawatan  perguruan tinggi farmasi (PTF) dan Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia ( PD IAI). Analisis data secara deskriptif kualitatif dengan metoda triangulasi yang meliputi sumber informasi yang berbeda  dan metoda pengumpulan data yang berbeda. Hasil sementara di sempurnakan dengan Round Table Discussion di Jakarta dengan mengundang nara sumber dari Binfar Alkes.               </note>
 <subject authority="">
  <topic>1. PHARMACIST&#13;2. COMMUNITY HEALTH CENTER&#13;3. ASSIGNMENT POLICY</topic>
 </subject>
 <classification>613.072 BUL</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-56271</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2015-11-25 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2015-11-25 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>