

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-64939">
 <titleInfo>
  <title>The Determinant Of Core Inflation in Indonesia</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rizki E. Wimanda</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bagian Serial Jurnal BPPK : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kementrian Keuangan Republik Indonesia</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 153-164</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Paper ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi core inflation di Indonesia. Dengan menggunakan model OLS dan data triwulanan (qtoq)  kami berargumen bahwa pada periode setelah krisis ekonomi tahun 1997/1998  core inflation dipengaruhi oleh core inflation masa lalu (backward-looking)  ekspektasi inflasi (consensus forecast)  output gap  nilai tukar (perubahan dan tingkat volatilitasnya)  dan    pertumbuhan M1.Dibandingkan dengan whole sample (1992-2011)  pada periode setelah krisis ekonomi peran output gap menjadi signifikan  pass-through nilai tukar berkurang  dan peran volatilitas nilai tukar menjadi lebih besar. Dengan menggunakan output gap MV filter  ditemukan adanya threshold output gap setelah periode krisis. Sementara itu  peran BI rate dalam menurunkan core inflation relative terbatas. Dengan menggunakan model ARDL dan data bulanan (yoy) dari Januari 2002 s.d. Juni 2011  kami berargumen bahwa pergerakan administered price inflation dan volatile food inflation mempengaruhi pergerakan core inflation di Indonesia. Secara umum  dampakkenaikan volatile foods lebih besar dibandingkan dampak kenaikan administered price terhadap core inflation. Beberapa komoditas administered price yang berdampak signifikan terhadap core inflation adalah bensin  angkutan dalam kota  bahan bakar rumah tangga  dan tarif telepon. Sementara beberapa komoditas volatile foods yang berdampak signifikan terhadap core inflation adalah beras  daging sapi  susu  mie  dan minyak goreng.</note>
 <subject authority="">
  <topic>1. INFLASI - FAKTOR PENGARUH&#13;2. NILAI TUKAR</topic>
 </subject>
 <classification>336.072 JUR</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-64939</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-08-29 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-08-29 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>