

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-65041">
 <titleInfo>
  <title>Perlindungan Hukum Pemegang Hak Atas Tanah Melalui Penerapan Sistem Pendaftaran Tanah PublikasiPositif Di Indonesia</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Iing Sodikin Arifin</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bagian Serial Jurnal Pertanahan. Pusat Penelitian dan pengembangan Badan Pertanahan Nasional RI</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 1-28</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Permasalahan publikasi dalam sistem pendaftaran tanah di Indonesia menimbulkan permasalahan di bidang hukum pertanahan. Banyak pemegang hak sudah mempunyai sertipikat hak atas tanah  baik setipikat hak milik  hak guna bangunan  hak pakai dan hak pengelolaan yang sudah berlangsung lebih dari 10 tahun sejak sertipikat itu diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional seking dikalahkan di lembaga peradilan baik di peradilan umum maupun peradilan Tata Usaha Negara. Dengan alat bukti yang tidak benar dan sewaktu beracara di peradilan hakim mengabaikan kesaksian ahli maupun alat bukti yang ada warkah Badan Pertahanan Nasional.Berbungkus putusan pengadilan yang telah incracht pemenang perkara mengajukan pembatalan hak kepada Badan Pertanahan Nasional  pemegang hak tidak ada perlindungan meskipun dalam sistem hukum pertanahan berdasarkan pasal 32 ayat (1) PP No. 24 tahun 1997 memiliki konsep Rechtsverwerking dimana seorang telah mempunyai sertifikat    lebih dari 5 tahun dan memperolehnya denga itikat baik tidak dapat di gugat di lembaga peradilan. Hakim tidak menerapkan konsep tersebut berbentuk peraturan pemenintah sehingga konsep perlu Rechtsverwerking ditingkatkan dalam perundang-undangan yang mengikat para hakim. Untuk itu perlu juga lembaga asuransi perlindungan hak dalam bentuk ganti rugi  apabial proses penerbitan sertifikatnya cacat prosedur dan pemegang hak yang sebenarnya akan mendapat ganti rugi. Sistem publikasi saat ini perlu pertanahan perlu ditingkatkan menjadi sistem publikasi positif untuk menjamin kepastian hukum pemegang hak atas tanah dan para investor luar negeri terlindungi  karena tujuan hukum salah satumya adalah kepastian hukum</note>
 <subject authority="">
  <topic>1.HUKUM, PEMEGANG HAK ATAS TANAH.&#13;2. HUKUM, SISTEM PUBLIKASI.</topic>
 </subject>
 <classification>526.9072</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-65041</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-09-05 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-09-05 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>