

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-65855">
 <titleInfo>
  <title>Peran Pustakawan dalam Pengembangan Institusional Repository:</title>
  <subTitle>Sebua Tantangan</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Suwardi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Bagian Serial Visi Pustaka: jaringan informasi antar perpustakaan. Perpustakaan Nasional RI</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 78-85</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sumber daya perpustakaan terus berubah  menurut Saw and Todd perubahan tersebut di dorong oleh teknologi  perilaku pemustaka  profil angkatan kerja dan angkatan kerja antar generasi. Perubahan harus dapat diadaptasi oleh pustakawan dengan baik agar pemustaka tetap mengandalkan perpustakaan sebagai sumber informasi/pengetahuan baginya. Teknologi informasi dan komputer menjadi salah satu faktor perubah yang sangat dominan. Akuisisi  penyimpanan  akses  desiminasi  sampai konservasi informasi/pengetahuan dilakukan dengan TIK. Dengan alat bantu berupa    ontologi dan manajemen pengetahuan pustakawan akan lebih mudah dalam memahami seluk beluk institutional repository dan melibatkan diri pada pengembangannya. Komponen ontologi dapat menunjukkan hubungan antara unit-unit yang ada pada suatu perguruan tinggi dengan pengetahuan beserta berbagai aliran pengetahuan yang terjadi. Data menunjukkan bahwa institutional repository di Indonesia belum dikelola dengan baik  dari 2.647 perguruan tinggi (PTN dan PTS) baru 42 (1 59%) yang masuk dalam daftar Ranking Web of Repositories. Terdapat berbagai kendala yang menghadang pustakawan untuk terlibat dalam pengembangan institutional repository  diantaranya  ldquo sindrom autis rdquo  dan lemah dalam penguasaan TIK. Tetapi dengan pendekatan SECI model partisipasi pustakawan pada pengembangan institutional repository akan dapat terwujud.       FLL PDF</note>
 <subject authority="">
  <topic>1. INSTITUSIONAL REPOSITORY - PERAN PUSTAKAWAN&#13;2. PUSTAKAWAN - MANAJEMEN - REPOSITORY</topic>
 </subject>
 <classification>025.05 VIS</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-65855</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-11-08 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-11-08 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>