

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-68">
 <titleInfo>
  <title>Model evaluasi kurikulum penerapannya pada kurikulum muata lokal</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Suwandi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher> Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: p.37-49</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Evaluasi kurikulum merupakan salah satu langkah dalam siklus pengembangan kurikulum. Oleh karena itu  pemahaman suatu model yang diperkanalkan oleh para ahli tentang evaluasi kurikulum tersebut merupakan suatu keharusan bagi para pengembang kurikulum. Melalui sekian banyak jenis model yang diperkenalkan oleh para ahli  para pengembang kurikulum dapat memilih model yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi  karakter  dan sebagainya dengan kurikulum yang akan dievaluasi. CIPP (Context  input  process  product) dari Stufflebveam merupakan salah satu model evaluasi kurikulum yang sesuai dengan evaluasi kurikulum muatan lokal sebab kurikulum muatan lokal merupakan kurikulum baru yang lengkap. Dalam arti dimulai dari need assessment sesuai kebutuhan masyarakat. Penyusunan perangkat kurikulum  uji coba pelaksanaan dan pelaksanan itu sendiri  evaluasi kurikulum  dan kembali ke penyempurnaan perangkat kurikulum sesuai masukan hasil evaluasi. Apabila dilihat dari masalah yang akan dicari jawabannya dalam pelajaran dengan hasil belajar siswa. Dalam ciri pengembang kurikulum dan masalah seperti itulah kiranya model CIPP memberikan msukan yang optimal dalam pengambilan keputusan. Terjadinya kesenjangan antara tujuan dengan hasil belajar siswa  disebabkan guru kurang memahami apa dan bagaimana pembelajaran serta evaluasi untuk mata pelajaran yang berkarakteristik afektif (penanaman nilai-nilai) seperti halnya kurikulum muatan lokal mata pelajaran PLKJ.</note>
 <subject authority="">
  <topic>KURIKULUM, EVALUASI - MUATAN LOKAL</topic>
 </subject>
 <classification>370.7 JUR 18-19</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-68</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2001-03-21 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2001-03-21 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>