Index Artikel

Asmarandana Ngagurit Kaburu Burit : Pengalaman Didaktis Kepesantrenan Haji Hasan Mustapa (1852-1930)



Jaringan pesantren memiliki peran besar dalam proses Islamisasi di tatar Sunda yang terhubung dengan tradisi keilmuan Islam Nusantara. Melalui lembaga ini identitas Islam Nusantara terikat kuat dalam bingkai kosmopolitanisme peradaban pesantren. Naskah Asmarandana Ngagurit Kaburu Burit (Or. 7876) merupakan puisi didaktis Mustapa yang menunjukkan kuatnya budaya pesantren dalam membentuk kepribadiannya. Karya pujangga Sunda terbesar ini berisi pengalaman dirinya sebagai santri kelana di beberapa pesantren Sunda yang dituangkan ke dalam bentuk sastra lokal Sunda (dangding). Sebuah bentuk lain dari sastra pesantren seputar pengalaman didaktis sufistik dalam memburu kesejatian diri. Di pesantren Mustapa diajarkan mengikuti perintah Al-Qur rsquo an Nabi dan para ulama tanpa banyak tingkah. Kendati pengajarannya cenderung santai dan wajar (sesemb eacute n pamemed eacute n) tetapi hasilnya bisa dirasakan. Mustapa merasakannya saat ia terus bertekad mencari kesempurnaan batin (susulukan) dan berhasil terwujud di masa tua yakni sebuah masa ketika ia menyusun puisi yang disebutnya terlalu kesorean (ngagurit kaburu burit). Nasihat didaktis Mustapa kiranya signifikan tidak saja mengungkap nasihat didaktisnya dalam bingkai kesadaran sufistik alam kesundaan tetapi juga semakin memperjelas posisi dirinya sebagai ulama yang tidak pernah kehilangan kesadaran akan besarnya pengaruh tradisi pesantren dalam kehidupannya (bayangan santri kobongan).



Informasi Detail

Judul Seri
-
Kode Buku
025.072 JUR
No Reg
-
Penerbit Serial Jumantara : Jurnal Manuskrip Nusantara : .,
Deskripsi Fisik
Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 1-44
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Edisi
No. 2. Vol. 4 Oktober-2013
Subjek
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaDetail XMLKutip ini