

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-71392">
 <titleInfo>
  <title>Purantara:</title>
  <subTitle>Kreativitas Rakawi Kakawin Nilacandra</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>A.A. Gde Alit Geria</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Serial Jurnal Manuskrip Nusantara Perpusnas</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: Serial</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penulisan dan penyalinan karya-karya sastra kakawin  hingga kinimasih berlangsung di Bali. Pada akhir abad XX-an  di Banjar Tengah Sibetan Babandem Karangasem muncul seorang pangawi bernama Made Degung cukup produktif di bidang olah sastrakakawin. Kakawin Nilacandra (KN) adalah hasil mahakaryanya yang pertama  disusul karya yang kedua (Kakawin Eka Dasa Siwa)  dan Kakawin Candra Banu (Dharma Acedya) sebagai karyanya yang ketiga yang kini tengah dirampungkan. Karyanya yang pertama (KN) merupakan cerminan masyarakat Bali dalam srada bhakti kepada Hyang Widhi  sarat akan filosofis Siwa-Buddhayang hingga kini masih hidup berdampingan dan harmonis di Bali. Kakawin yang dikemas apik  penuh estetik ini memiliki kedudukan penting di antara kakawin yang ada  karena faktor isi dan keunikan penyajiannya merupakan jiwa zaman  yakni wacana Siwa-Buddha yang khas model Bali. Kakawin ini selesai digubah pada Jumat Paing Sintapananggal ke-13 tahun Saka 1915 (1993 Masehi).  Kemampuannya dalam meresepsi naskah Siwagama dan Nilacandra Parwa sebagai sumber/hipogram KN  mendapat respon positif dari masyarakat Bali  karena sangat jarang dijumpai rakawi yang produktif menulis karya sastra kakawin di zaman modern ini. Terlebih dengan adanya sebuah bentuk wirama baru yang diberi nama wirama Purantara  telah menunjukkan kreativitasnya di bidang olah sastra  mampu menyadur atau meresepsi karya prosa Jawa Kuna ke dalam bentuk puisi Jawa Kuna berupa kakawin  yang tentunya tidak sembarang pangawi Bali mampu melakukannya. Ciptaan wirama baru ini tentunya sangat menggembirakan bagi pencinta sastra kakawin  sebagai bukti perkembangan  ldquo per-puisi-an rdquo  Jawa Kuna masih hidup dan berkembang di Bali hingga kini.</note>
 <subject authority="">
  <topic>Kakawin (Bali) - Kesusastraan Bali</topic>
 </subject>
 <classification>025.072 JUR</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-71392</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-11-21 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-11-21 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>