

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-71415">
 <titleInfo>
  <title>Tiga Pelukis Potret Wajah Kepala Negara Pasca Presiden Sukarno di Istana Kepresidenan Republik Indonesia</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mikke Susanto Lono L Simatupang Timbul haryono</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Serial PATRAWIDYA seri penerbitan penelitian sejarah dan budaya</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 35-48</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kepala negara adalah representasi bangsa. Karenanya  setiap kepala negara memiliki keistimewaan untuk diabadikan  balk pada sebidang kanvas maupun selembar foto secara resmi. lukisan poto menjadi pilihan yang menarik. tidak hanya berfungsi sebagai penghias dinding istana  tetapi juga memiliki fungsi lainnya yang bersifat sosial maupun personal. Pada era Presiden Sukarno terdapat jabatan pelukis istana. Setelah era berganti  tradisi itu tidak ada lagi. Istana akhirnya memesan lukisan-lukisan potret pada tiger point di luar istana. IB Said  Soetarjo  dan Warso Susilo. Artikel tentang riwayat para pelukis istana telah ditulis dalam sejumlah buku dan artikel  namun tidak dengan ketiga pelukis ini. Padahal mereka melukis wajah para kepala negara sejak 1960-an hingga dekade pertama 2000. Artikel ini ingin membahas keberadaan dan proses kreatif mereka melalui pendekatan sejarah. Di samping itu tulisan ini juga ingin mengetahui sejauh mana karya yang dihasilkannya. Kesimpulannya cukup mengejutkan  mereka melukis dan mendudukan lukisan potret bukan sebagai karya pribadi. Inilah potret presiden pesanan  dimana pelukis hanya menjalani tugas sebagai instrumen mimetik atas realitas  bukan interpretator. Karya seninya  meskipun bersifat potret formal kepala negara  juga memiliki anti penting bagi wacana politik dan kekuasaan. </note>
 <subject authority="">
  <topic>PRESIDEN - KEPALA NEGARA</topic>
 </subject>
 <classification>959.072 JUR</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-71415</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-11-22 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-11-22 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>