

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-71537">
 <titleInfo>
  <title>Tinjauan Buku :</title>
  <subTitle>Filologi, Islam Indonesia dan Polemik Keagamaan</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Agus Iswanto</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Serial Jumantara : Jurnal Manuskrip Nusantara</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: Serial</extent>
 </physicalDescription>
 <note>    ldquo Menghimpun (dua pemikiran yang berbeda) itu lebih diutamakan daripada memilih salah satunya  selama hal itu bisa dilakukan. rdquo  Saya teringat dengan tulisan almarhum Alex Sudewa  filolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tulisan tersebut terbit dalam majalah Basis pada Oktober 1984  dengan judul  lsquo Filologi dalam Era Pembangungan. rsquo  Ia  dalam tulisan itu  mengatakan bahwa jika filolog bekerja sendiri  maka hanya akan berlomba dengan ngengat di museum atau perpustakaan yang kotor tak terawat. Oleh karena itu  filolog sebaiknya memberi umpan kepada ilmuwan sosial yang dalam era ini  (menurutnya waktu itu sebagai era pembangunan)  baru berlaku sebagai pencetak gol. Gol selalu dicetak karena ada umpan dari sesama pemain. Kerja para filolog dalam era ini diibaratkan sebagai umpan terobosan yang dikirim kepada pencetak gol  yakni para peneliti ilmu sosial. Dengan argumen tersebut  sesungguhnya Sudewa sedang mengajukan tantangan kepada para filolog  untuk menjadikan filologi lebih inland dalam realitas kehidupan manusia era kini. Bukankah sudah banyak pula pendapat-pendapat tentang pentingnya manuskrip bagi pembentuk kebudayaan dan jati diri bangsa  Tampaknya ini yang coba dijawab oleh para filolog  yang dalam kasus manuskrip keagamaan Islam  Oman Fathurahman menjadi salah satu sarjana yang menjawab tantangan Sudewa tersebut  sebagaimana tercermin dalam bukunya ini.  Full Text     </note>
 <subject authority="">
  <topic>Filologi - Manuskrip</topic>
 </subject>
 <classification>025.072 JUR</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-71537</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-11-30 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-11-30 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>