

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-71579">
 <titleInfo>
  <title>Babad Giyanti:</title>
  <subTitle>Sumber sejarah dan karya agung sastra jawa</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Prof. DR. M. C. Ricklefs, FAHA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Serial Jumantara : Jurnal Manuskrip Nusantara</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: Serial</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Di antara ribuan karya sastra Jawa  babad merupakan salah satu yang sangat mengesankan dan salah satu buku babad yang paling hebat adalah Babad Giyanti yang ditulis pada paruh kedua abad ke-18. Buku ini menceritakan sejarah Jawa dari runtuhnya Keraton Kartasura pada tahun 1742 dan kembalinya Susuhunan Pakubuwana II kepada keratonnya pada akhir tahun  sampai akhir perang saudara pada tahun 1757 dan kunjungan Natakusuma atau Pangeran Juru ke Surakarta pada tahun 1758. Buku tersebut dikeluarkan dalam 21 jilid kecil oleh penerbit pemerintah kolonial Bale Pustaka pada tahun 1937-1939 dengan bahasa Jawa yang sangat bagus. Dalam Babad Giyanti juga menunjukkan keunggulannya seperti mengenai perpindahan keraton dari Kartasura yang rusak sampai Surakarta yang baru pada tanggal 9 Februari 1746. Babad Giyanti secara detail juga bercerita tentang kejadian intern dalam lingkungan Jawa dan jauh lebih dekat kepada lingkungan itu dibandingkan sumber-sumber Belanda. Sejarah Jawa dari 1742 sampai 1758 merupakan periode yang penting dan menentukan baik dalam rangka sejarah Jawa maupun dalam rangka sejarah kepulauan Indonesia pada umumnya  sehingga buku Babad Giyanti semakin penting sebagai kunci pokok untuk menelusuri dan memahami sejarah. Edisi Bale Pustaka mendeskripsikan Babad Giyanti sebagai anggitanipun Raden Ngabei Yasadipura I ing Surakarta (ciptaan R.Ng. Yasadipura dari Surakarta). Pada saat di Jawa  Gericke memperoleh naskah Babad Giyanti yang terdiri dari 6 jilid besar dan jilid 2-6 kelak masuk koleksi Nederlands Bijbelgenoostchap di Amsterdam yang pada akhirnya dipindahkan kepada Perpustakaan Universitas Leiden pada awal abad ke-20. Ternyata jilid pertama Babad Giyanti ditinggalkan di Jawa karena di atas jilid judulnya ditulis sebagai Babad Kartasura bukan Babad Giyanti. Jadi jelaslah bahwa Babad Giyanti    edisi Balai Pustaka berasal dari eksemplar yang tersimpan di PNRI karena merupakan satu-satunya yang lengkap dan isinya sama dengan teks yang dikeluarkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1937-1939.  Full Text</note>
 <subject authority="">
  <topic>Manuskrip - Kesusastraan Jawa</topic>
 </subject>
 <classification>025.072 JUR</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-71579</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-12-04 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-12-04 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>