Index Artikel

Estetika di dalam hikayat Malim Deman



Pendahuluan Dunia kesusastraan yang dikenal pada umumnya tak lepas dari unsur keindahan. Disadari atau tidak aspek keindahan dalam karya sastra merupakan daya tarik kepada khalayak pembaca. Pembaca pertama-tama akan melihat struktur bahasa hingga bentuk-bentuk diksi di dalam sebuah karya sastra yang dibacanya. Keindahan menjadi unsur penting hingga menjadi pengukur terhadap karya sastra tertentu untuk laku atau tidaknya di masyarakat. Wujud keindahan di dalam sebuah karya sastra penting keberadaannya bagi karya sastra dari belahan dunia manapun. Dalam khazanah kesusastraan Melayu istilah keindahan merupakan istilah pokok dalam sistem estetika kesusastraan Melayu (Braginsky 1994 18). Usaha keras pengarang dalam penciptaan karya sastra yang berbahasa indah merupakan satu tradisi dalam kesusastraan Melayu. Winstedt dalam bukunya A History of Classical Malay Literature (1969) mengklasifikasikan kesusastraan Melayu ke dalam beberapa kategori (1) sastra rakyat (Malay folk literature) (2) sastra Melayu zaman Hindu (the Hindu Period) (3) sastra Melayu berunsur Jawa (4) sastra Melayu transisi dari Hindu ke Islam (5) sastra legenda muslim (6) cerita-cerita bersumberkan muslim (7) sastra berbentuk teologi perundangan dan sejarah muslim (8) sastra sejarah Melayu (Malay histories) (9) hukum kanun (digests of Law) dan puisi Melayu (bahasa berirama syair dan pantun) (Said 2007 48). Bagi orang Melayu sastra rakyat atau Malay Folk Literature disebut sebagai cerita pelipur lara. Menurut namanya cerita pelipur lara ialah cerita yang dipakai untuk melipur hati yang lara yang duka nestapa serta menjadi satu-satunya hiburan sebelum adanya TV dan radio. Tradisi bercerita dari rumah ke rumah ini pada zaman dahulu merupakan hiburan utama bagi khalayak umum. Meski para pencerita tidak tahu baca-tulis mereka tidak pernah membuat kesalahan lantaran sudah terbiasa mendengar cerita-cerita tersebut sejak kecil dari ayahnya dan datuknya yang juga seorang tukang cerita. Mereka inilah yang dinamai sahibul hikayat (Fang 2011 33). Cerita pelipur lara (Malay Folk Literature) sebagaimana disampaikan oleh Ahmad (1987 27) dalam bukunya Karya-Karya Sastra Bercorak Sejarah pada umumnya bercerita tentang anak-anak raja. Cerita biasanya berpusat di seputar kelahiran proses mendapatkan pendidikan baik secara formal maupun informal percintaan perkawinan dan pengembaraan yang kerap kali diakhiri dengan kembalinya tokoh cerita ke negeri asal (Sudibyo 1996 79). Sebagaimana yang dikatakan Wilkinson bahwa episode peperangan dan cinta merupakan hal yang penting di dalam cerita Melayu. Pencerita Melayu sangat mementingkan plot. Mereka amat detil dalam menyampaikan gaya deskripsi peperangan cinta sayembara dan kata-kata jenaka dalam percakapannya (Wilkinson 1907 27).Tak hanya itu dalam hikayat juga terkandung unsur-unsur kepercayaan masyarakat lama akan adanya peri mambang indra bidadari dewa-dewi dan raksasa yang bercampur dengan kepercayaan akan jin (Mulyadi 1980 136). Full Text



Informasi Detail

Judul Seri
-
Kode Buku
025.072 JUR
No Reg
-
Penerbit Serial Jumantara : Jurnal Manuskrip Nusantara : .,
Deskripsi Fisik
Sumber artikel:Jurnal. Halaman: Serial
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Edisi
No. 2. Vol. 5 Oktober-2014
Subjek
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaDetail XMLKutip ini