Index Artikel

Kajian Semiotika Penggalan Serat Wicara Keras Dalam Naskah H Tabbri



Pada abad ke-18 sampai abad ke-19 Surakarta mengalami puncak kesusastraan. Hal ini dikarenakan wilayah pesisir yang notabene menjadi aset perdagangan telah dikuasai Belanda maka dari itu istana mengarahkan ke berbagai bidang kesenian terutama kesusastraan. Ada tiga tokoh besar dalam Kesusastraan Surakarta yaitu Yasadipura I Yasadipura II dan Ranggawarsita. Yasadipura I sangat berjasa dalam kepustakaan Jawa. Sementara Yasadipura II adalah anak dari Yasadipuro I yaitu tumenggung dengan nama Raden Sastranegara. Dia juga berjasa dalam Kesusastraan Surakarta ia mampu membuat karya-karya baik itu gubahan maupun hasil karyanya sendiri salah satu karnyanya adalah Serat Wicara Keras yang berisikan tentang kepemimpinan Pakubuwana IV. Nampaknya karya-karya mereka dipakai sebagai bahan rujukan oleh cendekiawan pada masa itu. Ini bisa kita lihat didalam naskah H. Tabbri halaman 311 terdapat penggalan Serat Wicara Keras. Kita tahu Serat Wicara Keras dibuat untuk mengkritisi kepemimpinan Pakubuwana IV akan tetapi ada makna lain yang mungkin ingin disampaikan oleh H.Tabbri karena hanya menuliskan penggalannya saja. Kajian semiotik akan dipakai penulis dalam mengonsep mengimajinasi menghidupkan pluralnya teks yaitu betapa terbukanya signifikasinya. Analisis ini menarik penulis gunakan karena akan memudahkan penulis dalam mencari kode-kode yang terkandung didalam teks penggalan Serat Wicara Keras dalam naskah H.Tabbri. Full Text



Informasi Detail

Judul Seri
-
Kode Buku
025.072 JUR
No Reg
-
Penerbit Serial Jumantara : Jurnal Manuskrip Nusantara : .,
Deskripsi Fisik
Sumber artikel:Jurnal. Halaman: Serial
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Edisi
No. 2. Vol. 5 Oktober-2014
Subjek
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaDetail XMLKutip ini