

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-71695">
 <titleInfo>
  <title>NATIONALISM FROM THE OOSTHOEK:</title>
  <subTitle>THE CONTRIBUTION OF GEMEENTERAAD MALANG ON THE EMPOWERING OF INDONESIA LOCAL POLITICIAN (1920-1941)</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart> Reza Hudiyanto</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Serial Patra Widya: Seri Sejarah dan Budaya Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 143-153</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penerapan sistem pemilihan anggota legislatif secara tidak langsung telah mengembangkan iklim politik di daerah tingkat dua seperti kabupaten dan kota. Hasil yang tidak terduga dari 10 tahun pelaksanaan demokrasi adalah kembalinya politisi-politisi orde baru  menjamurnya politik uang dan kebangkitan kembali dinasti lokal. Dalam kenyataan  peran anggota dewan di daerah dalam pemberdayaan masyarakat masih belum jelas. Korupsi yang melibatkan politisi di daerah telah menciptakan kekecewaan di kalangan publik akhir-akhir ini. Sejak kapan penyalahgunaan kekuatan oleh anggota Parlemen ini terjadi  Artikel singkat ini mencoba memberikan penekanan pada peran lembaga dewan kota dalam pemberdayaan kesadaran nasionalisme di kalangan politisi lokal bangsa Indonesia pada periode Kolonial Belanda. Menurut catatan dari parlemen lokal atau dalam teks asli disebut Stadsgemeente Raad  terdapat beberapa nama anggota parlemen daerah seperti Soekardjo Wirjopranoto  Pandji Soeroso dan beberapa anggota lain. Sebagai faksi yang minoritas di dewan  sikap mereka terhadap tekanan diskriminasi koloial membuktikan bahwa mereka telah menggunakan kesempatan itu untuk pemberdayaan sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah kolonial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Melalui pengumpulan  kritik  dan interpretasi dokumen dewan kota  dan surat kabar yang berasal dari tahun 1925 hingga 1940  diperoleh gambaran tentang situasi  konteks dan diskusi yang dikembangkan dalam ruang sidang parlemen. Dari kajian dokumen ini dapat disimpulkan bahwa dewan kota (gemeenteraad) Malang telah memainkan peran penting dalam pemberdayaan politisi Indonesia  terutama ketrampilan dalam berargumen  pemahaman sistem hukum dan birokrasi  pemecahan permasalahan kota pada saat itu. Sebagai dampak positif adalah munculnya tokohtokoh kompeten yang menjalankan fungsi pemerintahan sesudah kolonialisme berakhir pada tahun 1945.  FULL TEXT</note>
 <subject authority="">
  <topic>POLITISI LOKAL -- KOTA MALANG</topic>
 </subject>
 <classification>905.072 PAT</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-71695</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-12-11 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-12-11 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>