

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-87">
 <titleInfo>
  <title>Desentralisasi pendidikan di tingkat kelas</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Silverius, Suke</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher> Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang. Depdikbud)</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: p. 60-76</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sejalan dengan ratifikasi Rancangan Undang-undang tentang Otonomi Daeraha dan Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat-Daerah maka isu desentralisasi dalam kaitan langsung dengan otonomi semakin mencuat. Berbagai uraian dan pandangan mengalir dari para pakar menanggapi isu desentralisasi namun semuanya dalam kaitan dengan ilmu pemerintahan atau dengan disiplin ilmu lainnya secara makro. Kajian ini mengulas perlunya desentralisasi secara mikro  khususnya di tingkat kelas. Konsep pendidikan yang banyak dianut para guru dan tenaga kependidikan berpusat pada hubungan satu arah antara guru dengan siswa dan guru sebagai sumber segala pengetahuan yang hendak dituangkan ke dalam diri siswa yang dipandang sebagai gentong kosong yang tidak mahatahu atau bahkan yasng smaha tidak mahatahu. Konsep ini menjauhkan guru dan siswa dari kehidupan realita dan masuk dalam suatu dunia kayalan. Oleh sebab itu  dipandang perlu adanya reformasi dalam bidang pendidikan. Bentuk reformasi yang ditawarkan dlam kajian ini ialah desentralisasi di tingkat kelas dan perubahan konsep pendidikan dari guru yang mahatahu menjadi guru sebagai mitra pembelajaran yang mengajar siswa dan sekaligus juga diajar siswa densgan masukan dari para siswanya. Dengan konsep ini para guru dan siwwa bersama-sama memasuki dunia ralita dan menjelajahinya bersama dan memanfaatkannya uyntuk pengembangan diri dan kepribadian masing-masing  ke arah suatu kehiduapn yang kritis dan kratif. Desentralisasi pendidikan di tingk kelas ini dipersyaratkan  oleh perampingan kurikulum 94 sebagai suatu  conditio sine qua non   demi memberikan banyak waktu dan memperbesar peluang bagi para siswa untuk ikut serta secara aktif dalam proses pembelajaran bersama-sama dengan gurunya.  </note>
 <subject authority="">
  <topic>DESENTRALISASI DALAM PENDIDIKAN</topic>
 </subject>
 <classification>370.7 JUR</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-87</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2001-04-06 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2001-04-06 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>