

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-87086">
 <titleInfo>
  <title>Analisis Karakteristik Hujan Ekstrim Menggunakan Model Iklim di Wilayah Gunung Merapi</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Elenora Gita Alamanda Sapan 2. Joko Sujono 3. Karlina</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Serial Media Komunikasi Teknik Sipil - Journals BMPTTSSI</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 99-108</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Curah hujan yang ekstrim merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya banjir lahar pada stratovolcanos. Hal ini disebabkan material vulkanik akan mudah tererosi dalam jumlah besar dengan aliran air permukaan akibat curah hujan yang ekstrim. Curah hujan ekstrim merupakan fenomena alam yang sering dikaitkan dengan perubahan iklim. Kedepannya  perubahan karakteristik curah hujan yang ekstrim dapat terjadi. Oleh karena itu  perlu dilakukan analisis curah hujan ekstrim untuk periode historis dan mendatang. Pada penelitian ini  karakteristik curah hujan yang dianalisis adalah variabilitas hujan ekstrim yang ditunjukkan dengan analisis trend indeks hujan ekstrim yaitu RTOT. Data curah hujan per jam pada delapan stasiun hujan digunakan sebagai input. Data curah hujan mendatang diproyeksikan menggunakan model iklim global CanESM2 (RCP4.5 dan RCP8.5 dan proses downscaling menggunakan Statistical Downscaling Model (SDSM). Perbandingan curah hujan proyeksi dengan curah hujan historis menunjukkan kecenderungan yang berbeda di setiap stasiun. Kecenderungan peningkatan terjadi pada empat stasiun yaitu stasiun Plosokerep  Pucanganom  Sopalan  dan Talun  dengan trend kenaikan tertinggi terjadi di stasiun Sopalan  selain itu juga terdapat trend penurunan yang terjadi di stasiun Ngandong untuk kedua skenario dan di stasiun Sorasan pada skenario RCP8.5 Stasiun Jrakah dan Randugunting menunjukkan tren yang stabil.  PDF</note>
 <subject authority="">
  <topic>TEKNIK SIPIL - IKLIM - HUJAN, KARAKTERISTIK</topic>
 </subject>
 <classification>620 MED</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-87086</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-12-22 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-12-22 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>