

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="-94012">
 <titleInfo>
  <title>Perubahan Sosial Pada Masyarakat Dusun Munti Gunung:</title>
  <subTitle>Dari Mekurup, Menggepeng, Hingga Kembangkan Potensi Wisata</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Ni Putu Sri Pratiwi; Muhammad Fedryansyah; Nunung Nurwati</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
  </place>
  <publisher>Serial Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi</publisher>
  <dateIssued></dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">ind</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Index Artikel</form>
  <extent>Sumber artikel:Jurnal. Halaman: 138-152</extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK  Dusun Munti Gunung telah ditandai sebagai  ldquo desa pengemis rdquo  atau  ldquo penggepeng rdquo  sejak tahun 1980-an. Hal ini disebabkan Munti Gunung merupakan daerah yang sangat gersang dengan letak air tanahnya yang sangat dalam. Sebelum menjadi pengemis  masyarakat Munti Gunung kerap pergi ke kota untuk menukarkan hasil panen dengan kebutuhan mereka sehari-hari (barter).    Namun seiring berjalannya waktu  transaksi barter tersebut berubah menjadi meminta-minta tanpa mempertukarkan hasil panen. Meskipun pemerintah telah berupaya mengembangkan aspek pariwisata di dusun tersebut  namun permasalahan tersebut masih belum terselesaikan secara tuntas. Penelitian mengenai kemiskinan dan praktik menggepeng yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Munti Gunung memang telah banyak dibahas  namun temuan-temuan tersebut belum mampu menjelaskan perubahan sosial yang lebih komprehensif dan mendalam yang terjadi pada masyarakat tersebut. Padahal penelitian tentang perubahan sosial dapat menyediakan pemahaman mendalam tentang dinamika masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan sosial  sehingga kebijakan dapat lebih tepat sasaran dan efektif. Melalui penelitian ini  peneliti bertujuan menganalisis perubahan sosial masyarakat Dusun Munti Gunung dalam dimensi interaksional yang dikemukakan oleh Himes  amp  Moore melalui metode penelitian kualitatif dengan sumber data dari literatur dan wawancara mendalam dengan sejumlah informan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan dari aktivitas barter menjadi pengemis adalah perubahan yang tidak direncanakan dan tidak dikehendaki  sedangkan perubahan dari menggepeng menjadi aktivitas pengembangan desa wisata merupakan perubahan yang direncanakan dan dikehendaki. Secara keseluruhan  perubahan yang terjadi bersifat multiliner yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.  Kata kunci  Desa Munti Gunung  Gepeng  Kemiskinan  Perubahan Sosial       ABSTRACT  Munti Gunung Hamlet has been marked as a   beggar village   or   penggepeng   since the 1980s. This is due to Munti Gunung being an extremely arid area with very deep groundwater. Before becoming beggars  the residents of Munti Gunung often traveled to the city to exchange their harvest for their daily necessities (barter). However  over time  these barter transactions evolved into begging without exchanging harvests. Despite government efforts to develop tourism in the hamlet  these issues remain unresolved. Research on poverty and begging practices in Munti Gunung has been widely discussed  yet these studies have not provided a comprehensive and in-depth explanation of the social changes occurring within the community. Research on social change can provide a deep understanding of societal dynamics and the factors affecting social welfare  leading to more targeted and effective policies. Through this study  the researcher aims to analyze the social changes in the Munti Gunung community through the interactional dimension proposed by Himes  amp  Moore  using qualitative research methods with data sourced from literature and in-depth interviews with several informants selected through purposive sampling. The research findings indicate that the shift from bartering to begging was an unplanned and undesirable change  whereas the transition from begging to developing a tourist village was a planned and desired change. Overall  the observed changes are multilinear  driven by both internal and external factors.  Keywords  Munti Gunung Hamlet  Beggar  Poverty  Social Change             Keywords  Munti Gunung  Gepeng  Kemiskinan  Perubahan Sosial       </note>
 <subject authority="">
  <topic>1. PERUBAHAN SOSIAL</topic>
 </subject>
 <classification>300.5 SOS</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT Perpustakaan UM Koleksi Bahan Pustaka Perpustakaan UM</physicalLocation>
  <shelfLocator>2</shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals>
  <slims:digital_item id="" url="" path="/" mimetype=""></slims:digital_item>
 </slims:digitals>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>-94012</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-12-10 00:00:00</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-12-10 00:00:00</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>